Pembeli Utama India Mendukung Minyak Kelapa Sawit Malaysia Karena Harga Indonesia Naik

JAKARTA - India kemungkinan membeli lebih banyak minyak kelapa sawit Malaysia setelah cukai impor yang dikenakan oleh produsen utama Indonesia mencapai rekor tertinggi tahun lalu, kata B.V. Mehta, direktur eksekutif Asosiasi Ekstraktor Pelarut Indua pada hari Kamis.

Indonesia telah mengenakan pajak dan cukai ekspor yang lebih tinggi pada tahun lalu dan membuat harga minyak kelapa sawit – yang sebelumnya telah mencapai tingkat tertinggi tahun ini – menjadi lebih mahal bagi pembeli utamanya.

"Porsi impor minyak kelapa sawit Indonesia oleh India hampir mencapai 70-75%,” kata Metha dalam Konferensi Minyak Kelapa Sawit Indonesia tahunan.

"Cukai ekspor yang tinggi yang dikenakan Indonesia membuat perusahaan penyulingan India enggan membeli dari Indonesia,” katanya, menambahkan bahwa di bulan Januari – September tahun ini, porsi impor minyak kelapa sawit Indonesia ke India menurun menjadi 55%, sementara Malaysia meningkat ke 45%.

Indonesia mulai memungut pajak ekspor minyak kelapa sawit mentah setelah absen tiga tahun pada bulan Februari tahun lalu, sementara cukai ekspor minyak makan telah mencapai rekor tertinggi senilai $255 per ton di bulan Februari tahun ini.

Dalam sebuah upaya untuk memperlambat kenaikan harga yang mendekati rekor, India memangkas pajak impor dasar untuk minyak kelapa sawit, minyak kedelai dan minyak bunga matahari di bulan September.

Indonesia menetapkan harga referensi ekspor minyak kelapa sawit mentahnya lebih tinggi untuk bulan Desember, yang berarti pajak dan cukai minyak kelapa sawit tetap berada di urutan teratas senilai $200 per ton dan $175 per ton.

Namun Indonesia kemungkinan akan tetap menjadi pemasok utama minyak kelapa sawit bagi Pakistan, kata Abdul Rasheed Janmohammed, ketua Asosiasi Penyulingan Minyak Makan Pakistan (Pakistan Edible Oil Refiners Association / PEORA) dalam konferensi tersebut.

"Saya pribadi berpikir bahwa Indonesia akan memiliki harga yang jauh lebih baik dibandingkan Malaysia dan kuantitasnya juga akan lebih tinggi,” kata Janmohammed.

Dia juga mencatat bahwa pembeli dari India lebih bergantung pada impor minyak kelapa sawit mentah, sementara Pakistan mengimpir lebih banyak produk olahan, yang memiliki cukai ekspor lebih murah.

Majalah Terbaru

Sponsor Kami