Perkebunan Sime Darby Malaysia mengincar pemulihan produksi minyak kelapa sawit, serta harga yang tinggi

KUALA LUMPUR – Sime Darby Malaysia, perkebunan kelapa sawit terbesar di dunia, memperkirakan produksi minyak kelapa sawit mentah di Malaysia dan Indonesia akan pulih dari penurunan tahun lalu, dan optimis harga akan tetap tinggi di tahun ini.

Produksi minyak nabati di kedua negara produsen terbesar menurun tahun lalu akibat kondisi cuaca ekstrim dan kekurangan tenaga kerja akibat pandemi virus corona di Malaysia.

“Tahun ini kami mengharapkan ada pemulihan di produksi (Malaysia), saya berharap tidak kurang dari pencapaian kami di tahun 2019,” kata direktur utama grup, Mohamad Helmy Othman Basha pada konferensi pers di hari Kamis.

Sementara peningkatan produksi mungkin akan membatasi harga acuan minyak kelapa sawit mentah di Malaysia, perusahaan tersebut memperkirakan harga akan berkisar sekitar 3.100 Ringgit Malaysia (767,14 Dolar Amerika) per ton untuk semester pertama tahun ini dan menjadi 3.000 Ringgit Malaysia di semester kerdua.

“Tahun ini akan menjadi tahun yang sangat menjanjikan bagi minyak kelapa sawit,” kata direktur utama Sime Darby Oils, Mohd Haris Mohd Arshad.

Perkebunan minyak kelapa sawit terbesar di dunia berdasarkan luas lahannya melaporkan laba bersih sebesar 149 juta Ringgit Malaysia (36,91 juta Dolar Amerika) untuk periode Oktober hingga Desember, dibandingkan kerugian bersih sebesar 58 juta Ringgit Malaysia pada kuartal tahun sebelumnya.

Omset naik 8% menjadi 3,64 miliar Ringgit Malaysia.

Perusahaan tersebut menghentikan operasinya dalam usaha patungan dan mencatatkan kerugian mencapai 236 juta Ringgit Malaysia.

Harga minyak kelapa sawit mentah yang lebih tinggi dan kontribusi segmen hilir perusahaan mengkompensasi produksi yang lebih rendah tahun lalu, kata mereka dalam pelaporan bursa saham.

“Sementara grup tersebut terus mengurangi tantangan di tahun 2021, salah satu prioritas kami adalah untuk menghilangkan kekhawatiran pemangku kepentingan kami atas Perintah Pelepasan Penahanan yang dikeluarkan baru-baru ini oleh bea cukai Amerika Serikat,” kata Mohamad Helmy.

Pada bulan Desember, Amerika Serikat melarang impor kelapa sawit dari Sime Darby atas tuduhan kerja paksa yang digunakan dalam produksi, yang mendorong beberapa pembeli minyak kelapa sawit global untuk mengeluarkan mereka dari rantai pasokan.

Perusahaan tersebut mengatakan bahwa mereka sedang bekerja sama dengan badan independen untuk menangani tuduhan tersebut.

Majalah Terbaru

Sponsor Kami