Ghana Bidik Investasi Thailand untuk Atasi Defisit Minyak Sawit

Thailand dan Ghana pekan ini memulai pembahasan mengenai investasi Thailand di sektor minyak sawit, seiring upaya Ghana mengatasi defisit pasokan domestik yang masih mencapai sekitar 30 persen dari kebutuhan konsumsi nasional. Wakil Menteri Pangan dan Pertanian Ghana, John Dumelo, bertemu dengan delegasi Thailand yang dipimpin oleh Urasa Mongkolnavin, Director-General Department of South Asian, Middle Eastern and African Affairs, Kementerian Luar Negeri Thailand, dalam kunjungan dagang yang berlangsung pada 13–19 Juni. Pertemuan tersebut berfokus pada peluang investasi Thailand di perkebunan kelapa sawit dan fasilitas pengolahan minyak sawit sebagai bagian dari strategi pemerintah Ghana untuk memperluas industri sawit nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor yang berbiaya tinggi.

Momentum pembahasan ini dinilai penting. Meskipun Ghana merupakan produsen minyak sawit terbesar ketiga di Afrika Barat, negara tersebut masih mengandalkan impor untuk memenuhi sekitar 30 persen kebutuhan domestiknya. Selain itu, pelaku industri memperkirakan sekitar 90 persen minyak goreng yang beredar di Ghana berasal dari impor ilegal sehingga terhindar dari kewajiban pajak maupun pengawasan mutu. Ketergantungan terhadap impor, baik yang legal maupun ilegal, menjadikan pengembangan produksi dalam negeri bukan hanya isu pertanian, tetapi juga tata kelola perdagangan.

Dalam Anggaran 2026, pemerintah Ghana mengumumkan kerangka pendanaan senilai US$500 juta melalui National Integrated Palm Oil Development Policy 2026–2032 yang dikembangkan bersama Bank Dunia dan Ghana Development Bank. Program tersebut menargetkan pengembangan 100.000 hektare perkebunan kelapa sawit baru guna mencapai kemandirian pasokan nasional. Kebijakan ini juga menawarkan pinjaman jangka panjang dengan masa tenggang pembayaran selama lima tahun serta pembiayaan hingga 70 persen dari biaya proyek industri. Skema tersebut dirancang untuk mendukung investasi pada budidaya kelapa sawit yang membutuhkan waktu sekitar tujuh tahun hingga mencapai produktivitas penuh. Dengan demikian, modal dan keahlian teknis dari Thailand akan masuk ke dalam kerangka investasi yang telah memiliki pendanaan dan struktur pelaksanaan.

Thailand sendiri memiliki posisi yang kuat di industri minyak sawit global. Pada 2024, negara tersebut menempati peringkat ketiga sebagai produsen minyak sawit dunia setelah Indonesia dan Malaysia, dengan pengalaman panjang yang mencakup seluruh rantai industri mulai dari pengelolaan perkebunan hingga pengolahan crude palm oil (CPO). Sementara itu, Ghana saat ini memproduksi sekitar 432.000 ton minyak sawit per tahun dengan proyeksi pertumbuhan sekitar 3 persen per tahun. Meski demikian, produksi domestik masih belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi nasional sehingga investasi pada kapasitas pengolahan dinilai dapat membantu mempersempit kesenjangan tersebut.

John Dumelo menyebut wilayah Oti, Ashanti, dan Ahafo sebagai kawasan yang memiliki kondisi iklim dan lahan yang sesuai untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit. Ia juga menjelaskan berbagai insentif bagi investor, termasuk kemungkinan keringanan pajak atas impor mesin pertanian serta dukungan dari berbagai lembaga pemerintah. Selain itu, ia mendorong agar kerja sama investasi asing tetap melibatkan petani lokal, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

Setiap investasi perkebunan yang dimulai saat ini diperkirakan baru akan mencapai produktivitas penuh pada awal dekade 2030-an. Hal inilah yang menjadi dasar penyusunan kebijakan pengembangan periode 2026–2032. Sebagai langkah awal, pada 2025 Ghana telah menandatangani kerja sama dengan Onesta Ghana Ltd. senilai US$50 juta untuk mengembangkan dan mengelola perkebunan seluas 10.000 hektare melalui proyek Redgold Oil Palm Plantation, yang menjadi fondasi bagi pengembangan investasi berikutnya, termasuk potensi kerja sama dengan Thailand.

Delegasi Thailand yang hadir dalam pertemuan tersebut juga terdiri atas Thirapath Mongkolnavin, Duta Besar Thailand untuk Nigeria yang juga merangkap sebagai Duta Besar untuk Ghana, para eksekutif perusahaan dan lembaga keuangan Thailand, serta anggota Thai Community Ghana. Selain investasi minyak sawit, kedua pihak juga membahas kerja sama di bidang pembangunan pertanian berkelanjutan serta kemitraan antara sektor publik dan swasta untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi rantai pasok.

Kedua negara menyatakan optimisme terhadap peluang kerja sama yang lebih erat dan berkomitmen untuk melanjutkan pembahasan. Namun, hingga saat ini belum ada perjanjian investasi yang resmi ditandatangani.

Source: newsghana.com

Majalah Terbaru

Sponsor Kami