Indstri Kelapa Sawit Melirik Robot, Mesin Nirawak Untuk Menghadapi Kekurangan Tenaga Kerja

Mahasiswa peneliti Malaysia Haziq Ramli mengenakan pakaian yang menyerupai jetpack ringan, dengan tiang diikatkan ke bisepnya, untuk memegang tiang panjang yang memotong daun tajam dan tandan buah yang berat dari pohon kelapa sawit yang hampir dua kali tingginya.

Bekerja di perkebunan keluarga seluas 1,2 hektar, dia adalah bagian dari tim yang mencoba menyempurnakan peralatan yang disebut exoskeleton yang dapat dikenakan, yang menjanjikan dapat mengurangi kebutuhan tenaga kerja untuk memanipulasi tiang yang beratnya dapat mencapai 8kg.

"Lengan saya ditopang ketika memegang tiang tersebut, ketegangan dan kelelahan yang saya rasakan berkurang,” kata Haziq, yang mengenakan sepatu dan kacamata.

Perusahaan perkebunan dalam negara produsen kelapa sawit terbesar kedua di dunia sedang meningkatkan mekanisme untuk membendung kerugian yang mencapai miliaran dolar karena buah tidak dipanen selama kekurangan tenaga kerja terburuk mereka.

"Untuk memanen 10 ton buah kelapa sawit per bulan, kita membutuhkan dua pekerja,” kata pemilih lahan, Hamidon Salleh.

Hamidon, yang juga seorang insinyur, mengatakan bahwa dia dan koleganya di Universitas Teknologi Malaysia (UTM) sedang bekerja sama dengan produsen utama Perkebunan Sime Darby untuk menguji peralatan tersebut.

"Dengan exoskeleton ini, satu pekerja dapat mencapai 10 ton dengan dirinya sendiri,” tambahnya. “Kami dapat melakukan kerjaan yang sama dengan lebih sedikit pekerja.”

Rekan-rekan Sime Darby, seperti IOI Corp, Perkebunan Boustead, dan FGV Holdings meningkatkan penggunaan mesin nirawak untuk menyemprot tanaman dengan pupuk dan pestisida, memetakan perkebunan perkebunan dan memantau kondisi pohon.

Sime Darby mengatakan sedang bekerja dengan mitra teknologi, tetapi tidak mengidentifikasi mereka. Boustead dan FGV tidak menanggapi permintaan komentar.

IOI mengatakan bahwa mereka telah menggandakan anggaran 2022 untuk otomotisasi dan mekanisasi sejak tahun lalu, sementara tambahan penggunaan mesin seperti mesin nirawak, gerobak dorong listrik dan pemotong sawit bermitir telah membantu mengurangi kebutuhan tenaga kerja hungga seperempatnya.

Produsen Malaysia kita berlomba untuk memekanisasi seiring menghadapi turunnya panen pada tiga tahun berturut, dengan kerugian yang diestimasikan sekitar RM 20 miliar akibat kekurangan tenaga kerja.

Panen menurun mencapai angka terendah 40 tahun terakhir pada tahun pemasaran 2022/21, akibat kekurangan minyak makan yang dipicu oleh perang Rusia-Ukraina.

Hampir 80 persen dari pekerja perkebunan Malaysia merupakan pekerja imigran, banyak diantaranya dipekerjakan dari Indonesia untuk mengerjakan pekerjaan memanen yang melelahkan, tetapi akibat pembatasan pandemi tenaga kerja tahun ini berkurang 120.000.

Dan pasokan diperkirakan akan semakin berkurang di tahun-tahun mendatang, membuat perekrutan semakin mahal.

"Kami telah melihat industri mulai berinvestasi lebih banyak dalam mekanisasi karena kekurangan tenaga kerja,” kata Ahmad Parveez Ghulam Kadir, kepala Dewan Minyak Kelapa Sawit Malaysia (Malaysian Palm Oil Board / MPOB). "Trennya meningkat."

Upaya untuk otomatisasi lambat sementara produsen memiliki akses mudah ke buruh migran murah yang mampu melewati medan perkebunan yang menantang bagi mesin.

Perubahan Covid-19 / Pandemi coronavirus telah merubah hal itu.

"Covid-19 telah mempercepat transformasi digital dalam perkebunan jauh lebih cepat,” kata Razalee Ismail, direktur penyedia layanan mesin nirawak Meraque. "Perusahaan kini lebih bersedia membayar dan bereksperimen dengan teknologi.”

Permintaan jasa penyemprotan nirawak telah meningkat sejak awal pandemi, mendorong perluasan armadanya menjadi 62 dari tiga di tahun 2018, meskipin Razakee mengatakan bahwa perusahaan perlu menambah 100 lagi untuk memenuhi permintaan.

Satu mesin nirawak menggunakan kecerdasan buatan untuk mendeteksi pohon dan menyemprotkan nutrisi dapat melakukan pekerjaan enam orang, tambahnya.

Meraque menghitung FGV, Boustead, and Sime Darby sebagai pelanggan.

Jika penggunaan tenaga kerja Malaysia tidak terkendali, kenaikan upah dapat dikombinasikan dengan penuruna produksi untuk meningkatkan biaya dan merusak data saing terhadap eksportir Indonesia yang lebih besar dan produsen baru di Afrika, India serta Amerika Latin.

Akhir tahun lalu, pengusaha dan pemerintah Malaysia mengelontarkan RM 60 juta untuk penelitian dan pengembangan teknologi otomatisasi panen.

Tujuan ambisius mereka adalah untuk memangkas tenaga kerja selama lima tahun kebelakang, menjadi rasio 1 pekerja setiap 50 hektar dibandingkan dengan 1 pekerja untuk 10 hektar saat ini, dengan rencana jangka panjangnya di mana 1 pekerja untuk 100 hektar.

"Kita tidak bisa berpuas diri seperti sebelumnya,” tambah Parveez dari dewan negara bagian.

Di saingannya, Indonesia, beberapa produsen tengah mengadposi aplikasi digital untuk mengoptimalkan alur kerja dan biaya, meskipun dengan langkah yang hati-hati, sadar bahwa mekanisasi dapat mengancam mata pencaharian.

Tidak ada perbaikan cepat

Namun, para ahli mengatakan bahwa otomatisasi tidak akan menggantikan tenaga kerja manual dalam waktu dekat. Beberapa mesin yang ada dapat mengatasi ruang bergelombang dan pohon palem yang menjulang tinggi seefisien pekerja.

Alat-alat baru dapat meringankan beban Malaysia, tetapi banyak yang masih dalam tahap awal, dan butuh pengembangan bertahun-tahun, kata Khor Yu Leng, direktur konsultan ekonomi dari Segi Enam Advisors.

Penerbangan dengan sebagian besar pesawat nirawak bertenaga baterai hanya berlangsung 15 menit, sementara exoskeleton tidak mempercepat pergerakan pemanen dan dapat menelan biaya puluhan ribu Ringgit, katanya.

Hazlina Salamat, peneliti utama UTM yang mengerjakan exoskeletons bagi industri kelapa sawit, sedang mengerjakan salah satu yang ditunjukkan dalam uji coba dapat mengurangi 22 persen ketegangan otot dan meningkatkan daya tahan hingga 47 persen, katanya.

Meskipun ingin memodernisasi, industri waspada terhadap investasi dalam jumlah besar, kata Hazlina, menambahkan, “Banyak dari teknologi ini harus dibuktikan terlebih dahulu.”

Majalah Terbaru

Sponsor Kami