Kebijakan Bahan Bakar Nabati, Cuaca Kering Mengakibatkan Harga Minyak Kelapa Sawit Tetap Tinggi
KUALA LUMPUR, 8 Maret (Reuters) – Kebijakan bahan bakar nabati Indonesia dan kemungkinan munculnya pola cuaca El Nino dapat semakin menekan persediaan global minyak goreng yang paling banyak digunakan, mengangkat harganya di akhir tahun, kata pejabat industri terkemuka dan analis dalam sebuah konferensi.
Pasar minyak nabati akan mengetat selama setahun mulai dari pertengahan 2023 karena produksi bahan bakar nabati global dapat meningkat sebanyak 4,5 juta ton pada tahun 2023, kata analis industri terkemuka Thomas Mielke dalam sebuah konferensi minyak kelapa sawit di Kuala Lumpur.
Indonesia, produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia, meningkatkan kandungan wajib minyak kelapa sawit dalam bahan bakar nabati menjadi 35% sejak bulan Februari, dari 30% sebelumnya, untuk mengurangi bahan bakar impor di tengah tingginya harga energi global dan untuk mengurangi emisi.
"Meningkatnya permintaan dan pertumbuhan yang terbatas dalam persediaan (minyak nabati) akan membawa kita ke defisit produksi global dalam bulan Juli hingga Desember tahun ini dan Januari hingga Juni 2024,” kata Mielke, kepala perusahaan riset Oil World yang berbasis di Hamburg.
Dia memperkirakan harga minyak kelapa sawit olein olahan yang diputihkan (refined bleached deodorized / RBD) Malaysia akan meningkat hampir 16% menjadi $1.150 per ton pada paruh kedua tahun 2023.
Produksi Malaysia pada tahun 2023 kemungkinan akan naiak 600.000 ton menjadi 19 juta ton, sementara produksi Indonesia akan meningkat 1,2 juta ton menjadi 47,7 ton, katanya.
Dorab Mistry, direktur perusahaan barang konsumen India, Godrej International, memperkirakan minyak kelapa sawit Malaysia akan diperdagangkan di antara 4.000 hingga 5.000 Ringgit ($1.106) per ton dari sekarang hingga Agustus.
Pembanding kontrak minyak kelapa sawit di Pertukaran Berjangka Bursa Malaysia turun 24 Ringgit menjadi 4.181 Ringgit per ton pada hari Rabu.
KETAKUTAN EL NINO
Produsen minyak kelapa sawit terkemuka Malaysia, seperti FGV Holdings (FGVH.KL) dan United Plantations (UTPS.KL) mengatakan kepada Reuters bahwa pola cauca El Nino, dipredisikan akan muncul pada pertengahan tahun ini, dapat mengurangi produksi di tahun 2024.
El Nino biasanya menghasilkan curah hujan di bawah rata-rata di produsen utama kelapa sawit Indonesia dan Malaysia, memangkas hasil panen dan meningkatkan harga global.
Malaysia dan Indonesia sudah bergulat dengan cuaca lembab La Nina dan banjur yang telah membatasi produksi selama beberapa bulan terakhir.
"Ini merupakan perubahan iklim... Alam telah menempatkan roket pendorong di bawah harga pertanian,” kata Mistry.
Indonesia, yang mengejutkan pasar dengan membatasi ekspor awal tahun ini, kemungkinan akan mengekspor lebih sedikit minyak kelapa sawit di tahun 2023 dibandingkan dengan tahun sebelumnya karena kewajiban bahan bakar nabatinya, Fadhil Hasan, kepala divisi perdagangan Gabungan Pengusahan Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI).
"Dulu sawit berorientasi ke ekspor bagi Indonesia, namun penjualannya menurun dan konsumsi domestik meningkat,” kata Fadhil.
James Fry, ketua konsultan komoditas LMC International, memperingatkan bahwa koreksi harga bahan bakar dapat menurunkan permintaan bahan bakar nabati dan menurunkan harga minyak kelapa sawit.
Fry mengatakan bahwa harga berjangka minyak kelapa sawit akan berada di rata-rata 3.760 Ringgit ($831,86) per ton pada tahun 2023, turun dari angkat 4.920 Ringgit di tahun 2022, tertekan oleh harga bahan bakar yang lebih rendah.



