Inovasi Radar dari ELECTICS ITS: Mendeteksi Penyakit Kelapa Sawit dan Tingkat Stres Manusia

Surabaya, ELECTICS ITS – Memadukan ketepatan teknologi radar dengan permasalahan dunia nyata, Rezki El Arif, S.T., M.T., Ph.D., dosen muda dari Departemen Teknik Biomedis ITS, menjadi salah satu tokoh kunci penggerak penelitian multidisiplin di ELECTICS.

Meski baru bergabung dengan ITS pada Februari 2023, Rezki langsung memulai proyek penelitian inovatif melalui Hibah Riset Kelapa Sawit (GRS) yang diinisiasi oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Pada tahun yang sama, ia mengusulkan penggunaan teknologi radar untuk mendeteksi Basal Stem Rot (BSR), penyakit yang disebabkan oleh jamur Ganoderma yang menyebabkan busuk batang dan merupakan salah satu tantangan utama dalam industri kelapa sawit Indonesia.

Apa yang membuat penelitian ini semakin menarik adalah pendekatannya yang unik, menggunakan radar non-kontak untuk mendeteksi infeksi jamur dan semangat kolaboratifnya yang kuat. Bekerja sama dengan peneliti dari ELECTICS, Unit Marihat Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), dan Universitas Brawijaya, proyek ini menerima pendanaan penuh selama dua tahun dari GRS, yang dijadwalkan selesai pada tahun 2025.

Pada tahun pertama, tim berhasil mengembangkan dan membangun prototipe radar. Sekarang, mereka berada dalam tahap kritis pengumpulan data dari berbagai perkebunan kelapa sawit di seluruh Indonesia, dari Sumatera hingga Kalimantan. Salah satu tantangan utama yang mereka hadapi bukanlah teknologi itu sendiri, tetapi menjangkau daerah perkebunan terpencil, yang seringkali membutuhkan perjalanan darat yang panjang melalui hutan.

Terlepas dari rintangan ini, penelitian berlanjut dengan motivasi yang kuat. "Salah satu indikator keberhasilan program GRS adalah implementasi dunia nyata," ujar Rezki saat diwawancarai oleh tim ELECTICS. Prototipe tersebut diharapkan dapat bermanfaat bagi petani, perusahaan kelapa sawit, dan lembaga penelitian pemerintah di masa depan.

Selain mengerjakan GRS, Rezki juga memimpin proyek penelitian lain di bawah program Indonesia Collaborative Research (RKI), yang dikelola oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Dalam proyek ini, radar digunakan untuk mendeteksi tingkat stres manusia melalui metode non-kontak. Sistem ini dirancang sebagai alat pendukung bagi psikolog, membantu mereka mengukur kondisi mental secara lebih objektif.

Tidak seperti alat tradisional seperti EEG atau EKG, yang membutuhkan kontak langsung dengan tubuh, sistem berbasis radar ini menawarkan alternatif yang lebih nyaman, terutama untuk pemantauan jangka panjang. Perangkat ini tidak menggantikan psikolog tetapi memberikan data kuantitatif yang mendukung penilaian klinis mereka.

Proyek ini melibatkan kolaborasi dengan Universitas Brawijaya dan Universitas Airlangga, dua institusi yang telah mempertahankan ikatan akademik yang kuat dengan Rezki sejak masa mahasiswanya. Dia juga terus berkolaborasi dengan almamater doktoralnya, Universitas Nasional Sun Yat-sen di Taiwan, yang mendukung penelitian sebagai mitra internasional.

Di balik dua proyek penelitian besar ini terdapat fondasi yang konsisten, teknologi radar. Sejak studi master dan doktoralnya, Rezki tetap fokus pada sistem radar. Ia meyakini bahwa konsistensi ini sangat penting untuk pengembangan akademik. "Saya tidak melompat dari topik ke topik. Inti saya selalu radar; hanya aplikasi yang berubah," jelasnya.

Meskipun penelitian kelapa sawit dimulai sebagai eksplorasi, Rezki berencana untuk lebih fokus pada aplikasi biomedis radar di masa depan. Meski begitu, dia tetap terbuka untuk kolaborasi lintas bidang, selama itu tetap dalam keahlian radarnya.

Kepada sesama dosen muda dan mahasiswa yang tertarik dengan penelitian, Rezki berbagi pentingnya tetap fokus dan membangun fondasi yang kuat.

"Menghabiskan waktu bertahun-tahun mempelajari satu topik secara mendalam tidak pernah-. Dari kedalaman itu, ide-ide baru secara alami akan tumbuh dan berkembang ke berbagai arah," pungkasnya.

Majalah Terbaru

Sponsor Kami