SPRC Bidik Ekspansi Perkebunan Kelapa Sawit hingga 20.000 Hektare
Sirawai Palm and Rubber Corp. (SPRC) milik keluarga Consunji berencana memperluas perkebunan kelapa sawitnya hingga mencapai sedikitnya 20.000 hektare dalam jangka panjang, seiring dengan upaya memanfaatkan peluang dari pasar minyak nabati yang terus berkembang di Filipina.
Pengusaha Isidro Consunji mengatakan bahwa ekspansi jangka panjang tersebut ditargetkan dilakukan di wilayah Zamboanga, Negros, Agusan, dan Sultan Kudarat, di mana SPRC telah memiliki kehadiran melalui berbagai kegiatan usahanya.Consunji menjelaskan bahwa biaya pengembangan perkebunan kelapa sawit berkisar antara P250.000 hingga P350.000 per hektare. Saat ini, SPRC mengelola sekitar 5.000 hektare perkebunan kelapa sawit dengan sekitar 600.000 pohon kelapa sawit. Untuk mencapai target tambahan 15.000 hektare, SPRC diperkirakan perlu menginvestasikan dana antara P3,75 miliar hingga P5,25 miliar. Consunji mengatakan perusahaan menargetkan pencapaian luas tanam tersebut dalam waktu tujuh tahun. Kebutuhan untuk memperluas perkebunan kelapa sawit SPRC didorong oleh perlunya pasokan bahan baku yang memadai guna mendukung operasional pabrik pengolahan minyak sawit milik perusahaan.
Menurut Consunji, pabrik pengolahan SPRC yang saat ini memproduksi 30 metrik ton minyak sawit per jam membutuhkan sedikitnya 10.000 hektare perkebunan kelapa sawit agar dapat beroperasi secara optimal. Kapasitas pabrik tersebut juga masih dapat ditingkatkan hingga dua kali lipat karena dirancang untuk ekspansi. “Peluang ke depan sangat besar dan kami berkomitmen untuk terus bertumbuh di industri ini,” ujar Consunji dalam pidatonya pada forum investasi yang baru-baru ini diselenggarakan oleh Center for Food and Agri Business dari University of Asia and the Pacific.
Consunji menekankan bahwa Filipina masih sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati. Ia menyebutkan bahwa produksi minyak sawit domestik saat ini hanya mampu memenuhi sekitar 9% dari kebutuhan tahunan negara yang mencapai 1,1 juta metrik ton. Ia menambahkan bahwa nilai impor minyak sawit setiap tahun mencapai sekitar US$1,5 miliar, sementara dibutuhkan sekitar 400.000 hektare perkebunan kelapa sawit untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. “Setiap dolar yang digunakan untuk impor sebenarnya adalah lapangan kerja, lahan pertanian, komunitas, serta penghematan devisa yang seharusnya bisa tercipta di dalam negeri,” katanya. “Sebagian besar wilayah Mindanao dan Visayas memiliki curah hujan serta kondisi topografi yang sesuai untuk budidaya kelapa sawit. Peluangnya sudah ada—pertanyaannya adalah apakah kita bersedia membangun industri ini,” tambahnya.
Saat ini, operasional perkebunan kelapa sawit SPRC mendukung hampir 1.200 lapangan kerja, mulai dari pemanen, pekerja pabrik, tenaga konstruksi sipil, hingga personel pendukung lainnya. Perusahaan juga bermitra dengan 275 petani plasma (outgrowers) yang mengelola sekitar 2.500 hektare perkebunan kelapa sawit. “Bersama dengan area perkebunan kami, kami menargetkan total luas tanam mencapai 12.000 hektare dalam lima tahun ke depan. Untuk mendukung skala tersebut, kami juga berinvestasi pada infrastruktur pengolahan,” ujar Consunji.
Ia juga menyampaikan bahwa potensi pendapatan bersih dari kelapa sawit berkisar antara P40.000 hingga P60.000 per hektare per tahun, atau sekitar dua kali lipat dibandingkan tanaman kelapa. “Saya mulai mengurangi keterlibatan dalam pengelolaan aktif di DMCI dan mencoba lebih banyak meluangkan waktu untuk bisnis pertanian keluarga kami,” kata Consunji. “Semakin banyak waktu yang saya habiskan di sektor ini, semakin saya yakin bahwa pertanian yang dikelola dengan baik merupakan salah satu investasi paling bermakna yang dapat dilakukan di negara ini. Bukan hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga karena dampaknya yang nyata terhadap kehidupan masyarakat,” tambahnya.
Berdasarkan data Philippine Statistics Authority, total luas areal perkebunan kelapa sawit di Filipina pada tahun lalu turun 5,5% menjadi 64.575 hektare, dibandingkan 68.315 hektare pada tahun 2024.



