Golden Agri-Resources Mencapai Hampir 100% Ketertelusuran Hingga Perkebunan Untuk Minyak Sawit di Indonesia Pada 2025
Perusahaan minyak sawit terkemuka Golden Agri-Resources (GAR) berhasil mencapai 99.8% ketertelusuran hingga tingkat perkebunan untuk minyak sawit di Indonesia pada 2025. Dalam laporan keberlanjutan 2025, Perusahaan juga berhasil mencapai 100% ketertelusuran hingga pabrik untuk semua produk non-sawitnya, seperti kelapa, kacang kedelai, gula, dan bunga matahari. Selain itu, sepanjang tahun 2025, GAR telah memperkuat keterlibatannya dengan rantai pasok kelapa sawitnya melalui program Sawit Terampil dan berhasil mencapai 11.250 petani swadaya. Perusahaan juga mendukung 1.095 peserta untuk memperoleh sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) lebih dari 2.000 hektar.
Menanggapi proses pencapaian perusahaan tersebut, Anita Neville, chief sustainability and communications officer GAR, mengatakan: “Tingkat ketertelusuran yang sangat tinggi ini membuat kami bekerja sama lebih erat dengan para pemasok. Hal ini juga membantu kami untuk mempertahankan para petani swadaya dalam rantai pasok kami serta mempersiapkan diri untuk EU Deforestation Regulation dan EU Corporate Sustainability Due Diligence Directive.” Namun, setelah lebih dari satu dekade melakukan berbagai upaya peningkatan, Neville mengakui bahwa perusahaan kemungkinan tidak akan mencapai 100% TTP dikarenakan adanya tantangan struktural pada rantai pasok yang melibatkan petani swadaya.
Menurut perusahaan, sebagian besar produksi kelapa sawit di Indonesia berasal dari para petani swadaya yang mengelola lahan dengan status kepemilikan informal atau belum bersertifikat tanah, sehingga proses penelusuran asal usul hasil panen justru menjadi jauh lebih sulit. “Yang menjadi masalahnya sekarang ialah seefektif apa sistem ketertelusuran kami untuk mengindentifikasi risiko, menentukan prioritas intervensi, dan dukungan improvisasi. Maka dari itu, pendekatan kami berfokus pada pendampingan pemasok agar mereka dapat meningkatkan praktik usahanya, sambil menjaga keberlanjutan pemasok serta memenuhi komitmen untuk No Deforestation, No Peat, and No Exploitation (NDPE),” tambahnya.
GAR menggunakan SmartTrace, sebuah platform digital berbasis blockchain, untuk melacak perjalanan produknya mulai dari perkebunan hingga ke pelanggan akhir. Pada Februari 2025, perusahaan berhasil melakukan uji coba dunia nyata pertama SmartTrace dengan pengiriman produk minyak sawit sebanyak 9.500ton ke Grup Verborg di Netherlands.
SmartTrace memastikan bahwa pengiriman tersebut 100% dapat dilacak ke Perkebunan GAR di Indonesia dan menandakan pengujian pertama dalam uji coba berkelanjutan dari sistem kepatuhan tersebut. Kedepannya, Neville mengatakan bahwa komitmen keberlanjutan perusahaan akan dilanjutkan untuk terus berkembang. “Fase selanjutnya dalam perjalanan kami akan membutuhkan integrasi yang lebih besar, kemitraan yang lebih erat, serta eksekusi yang lebih kuat,” katanya.
Terdaftar pada bursa efek Singapur sejak 1999, GAR mengelola sekita 531.355 hektar perkebunan minyak sawit, termasuk Perkebunan kecil milik para petani di seluruh Indonesia.
Pada 2025, perusahaan memproduksi 2.2 juta ton minyak sawit mentah (CPO) dan 582.000 ton inti sawit. Perusahaan menghasilkan pendapatan hampir US$13 miliar pada 2025 dari volume penjualan 12.3 juta ton dan membuat laba bersih US$400 juta. Fasilitas pengolahan hilir dan produk khusus GAR memproduksi berbagai produk untuk agronomi global, pangan, oleochemical, serta bioenergy markets.
Perusahaan juga memiliki bisnis pelengkap seperti produk kacang kedelai berbasis di Tiongkok, Cina, bunga matahari berbasis di India, dan bisnis gula. Sebagai tambahan, GAR memiliki manajemen pengiriman, pelabuhan laut, dermaga, gudang, fasilitas penyimpanan curah di lokasi-lokasi strategis.
Source: ofimagazine.com



