Bahan Bakar Pesawat Jet Berbasis Minyak Kelapa Sawit Akhirnya Tampil Perdana Di Indonesia

Pesawat CN 235-220 lepas landas untuk uji coba bahan bakar di Bandung, Jawa Barat, pada tanggal 9 September. Salah satu mesin pesawat jet oleh BioAvtur J2.4, sebuah bahan bakar penerbangan yang mengandung sebagian kecil bahan bakar hayati berbasis kelapa sawit, sementara yang lainnya menggunakan bahan bakar biasa.

JAKARTA: Sebuah konsorsium perusahaan di Indonesia, pembuat peraturan dan satu universitas telah memulai serangkaian tes pada bahan bakar penerbangan yang mengandung sebagian kecil bahan bakar hayati yang berasal dari minyak kelapa sawit, menanggapi mandat pemerintah tentang peningkatan penggunaan domestik komoditas tersebut melalui pencampuran bahan bakar hayati.

Konsorsium tersebut memulai sembilan hari uji terbang pada hari Kamis untuk bahan bakar penerbangan (avtur) yang dikenal dengan Bioavtur J2.4, di mana 2,4 persen bahan bakar hayati tersebut terbuat dari minyak kelapa sawit olahan.

Tes pertama dilakukan dengan menggunakan pesawat CN 235-220 yang terbang dengna ketinggian 10.000 kaki di atas Jawa Barat, menurut beberapa pernyataan pers.

Awal pekan ini di hari Senin, konsorsium tersebut telah menyelesaikan uji coba di darat dengan sebuah pesawat di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat. Kapten Pesawat, Adi Budi Atmoko menemukan bahwa mesin merespon dengan normal, tanpa ada perbedaan yang mencolok dengan bahan bakar [pesawat jet biasa]”.

Raksasa minyak dan gas milik negara, Pertamina memproduksi bahan bakar menggunakan katalis yang dikembangkan oleh Institut Teknologi Bandung (ITB), sementara badan usaha milik negara pembuat pesawat, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menyediakan pesawat dan lokasi uji coba, dan Kementerian ESDM mengawasi uji coba tersebut.

“Tes ini diharapkan dapat mendukung penggunaan bahan bakar berbasis minyak nabati dalam industri kedirgantaraan dan meningkatkan ketahanan energi, terutama dalam menggabungkan avtur dengan minyak kelapa sawit,” kata Direktur Niaga, Teknologi dan Pengembangan, Gita Amperiawan.

Ia mengatakan bahwa uji coba penerbangan ke Bandara Internasional Soekarno Hatta direncanakan untuk tanggal 15 September, menunggu persetujuan dari Pusat Kelaikan Kemhan RI (Indonesian Military Airworthiness Authority / IMAA).

Hasil uji coba ini  akan memberikan masukan bagi IMAA, Kementerian Transportasi dan PTDI dalam mengadopsi bioavtur, atau yang lebih dikenal dengan nama bahan bakar penerbangan berkelanjutan (sustainable aviation fuel / SAF).

Indonesia bermaksud untuk mulai menggunakan avtur yang mengandung 2 persen bahan bakar hayati pada tahun 2016 dan 3 persen tahun lalu berdasarkan Peraturan Menteri ESDM No. 12/2015 tetapi gagal menerapkannya karena alasan teknis dan ekonomis. Peraturan tersebut juga mewajibkan campuran bahan bakar hayati untuk solar dan bensin.

Debut bioavtur menandakan kemungkinan dimulainya kebijakan campuran bahan bakar hayati di Indonesia, yang berarti untuk mengurangi ketergantungan negara tersebut terhadap minyak impor, meningkatkan konsumsi minyak kelapa sawit dalam negeri dan mengurangi emisi karbon dalam sektor transportasi.

“Memproduksi [bioavtur] akan baik untuk kepentingan domestik, tetapi mirip dengan program bahan bakar hayati, ada masalah terkait perubahan iklim dan konflik sosial, seperti sengketa lahan [...] — pada dasarnya, ia merupakan masalah industri minyak kelapa sawit,” diumumkan oleh, Alloysius Joko Purwanto, ekonom energi dari Institut Penelitian Ekonomi bagi Asean dan Asia Selatan (Economic Research Institute for Asean and East Asia / ERIA).

Mengutip laporan Badan Energi Internasional (International Energy Agency / IEA), dia telah mengestimasikan avtur berbasis bahan bakar hayati 2 persen akan menjadi 2,5 hingga 4 persen lebih mahal daripada bensin biasa.

Ia juga mencontohkan bahwa kapasitas penyulingan avtur Pertamina relatif kecil. “Masalahnya bagaimana mengkompensasi perbedaan harga pencampurn bioavtur apabila ini diimplementasikan,” kata Joko.

SAF mulai mendapatkan popularitas di seluruh dunia selama dekade terakhir dengan Asosiasi Transportasi Udara Internasional (International Air Transport Association / IATA) yang berpengaruh menggarisbawahinya sebagai elemen kunci dalam mengurangi emisi industri penerbangan.

Norwegia dan Finlandia telah memperkenalkan kewajiban campuran bahan bakar hayati bagi bahan bakar penerbangan, sementara negara-negara Eropa lain dan Amerika Serikat sedang merencanakan peraturan serupa ataupun sudah memiliki peraturan yang diharapan dapat memacu adopsi.

“Bioavtur harus digunakan secepat mungkin, terutama bagi penerbangan internasional yang mewajibkan penggunaan bahan bakar hayati untuk mengurangi emisi gas,” kata direktur energi hayati kementerian ESDM, Adriah Feby Misnah.

Kementerian mengatakan bahwa uji coba penerbangan bulan ini merupakan yang ketiga dengan bioavtur, setelah uji mesin statis pada bulan Desember 2020 dan di bulan Mei tahun ini.

Pengujian mesin, yang menggunakan ruang uji coba badan usaha milik negara PT Garuda Maintenance Facility (GMF) AeroAsia, menemukan performa yang mirip antara bahan bakar pesawat Jet A1 yang biasa dan Bioavtur J2.0 serta J2.4.

Anak perusahaan penyulingan Pertamina, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), menuliskan dalam sebuah pernyataan hari Rabu bahwa perusahaan kini sedang mengembangkan dan menguji bioavtur dalam skala lab sejak tahun 2014 di kilang Dumai dan Cilacap.

Bioavtur J2.4 mengandung 2.4 persen minyak nabati, yang merupakan hasil maksimum yang dapat kami capai dengan teknologi katalis yang ada.

 

Majalah Terbaru

Sponsor Kami