Indonesia Berupaya Meningkatkan Kuota Ekspor Minyak Kelapa Sawit Dan Campuran Bahan Bakar Nabati Dalam Bahan Bakar

JAKARTA: Indonesia mengajukan untuk meningkatkan kuota ekspor minyak kelapa sawit pada hari Jumat dan sedang mempertimbangkan tingkat wajib bahan bakar nabati bagi petani di saat persediaan minyak kelapa sawit domestik tinggi, kata seorang menteri senior pada hari Sabtu.

Persediaan minyak kelap sawit membeludak dan pabrik membatasi pembelian tandan buah segar (TBS) dari petani sejak Jakarta menghentikan ekspor minyak kelapa sawit mentah dan beberapa turunannya selama tiga minggu hingga 23 Mei dalam upaya menahan lonjakan harga minyak goreng domestik.

Indonesia mengganti larangan tersebut dengan kewajiban pasar domestik (domestic market obligation / DMO), mewajibkan perusahaan untuk memasok sebagian produk mereka ke pasar domestik melalui program minyak makan curah, dan menghubungkan volume DMO dengan izin dan kuota ekspor perusahaan. Volume DMO pada akhir Juni ada sekitar 270.000 ton, kata pemerintah.

Pemerintah akan mengizinkan perusahaan yang telah menjual minyak kelapa sawit mereka dalam negeri untuk mengekspor sebanyak tujuh kali lipat angka penjualan dalam negeri mereka dari lima kali lipat saat ini, kata menteri senior Luhut Pandjaitan.

"Saya bertanya kepada Kementerian Perdagangan untuk meningkatkan faktor pengalian ekspor menjadi tujuh kali lipat mulai dari 1 Juli, dengan tujuan untuk meningkatkan harga TBS petani secara signifikan,” kata Luhut dalam sebuah pernyataan.

Pemerintah mengalokasikan 3,4 juta ton kuota ekspor minyak kelapa sawit selama “masa transisi” setelah larangan ekspor dan program percepatan ekspor. Namun, pengiriman masih terhitung lambat di mana kelompok industri minyak kelapa sawit Indonesia GAPKI mengatakan bahwa ekspor telah terhambat masalah ketersediaan kapal.

Sekjen GAPKI, Eddy Martono, pada hari Sabtu menyambut baik pelonggaran ekspor tersebut, mengatakan bahwa rasio ekspor yang lebih tinggi lebih dan dapat “mempercepat pengurasan tangki”.

Untuk menutupu kelebihan persediaan dalam negeri, pemerintah juga akan menjalankan rencana menaikkan kadar campuran bahan bakar nabati wajib menjadi 35% hingga 40%, tergantung pada pasokan dan harga minyak kelapa sawut, dari 30% saat ini, kata Luhut. - Reuters

Majalah Terbaru

Sponsor Kami