GAPKI Meningkatkan Ekspor Minyak Kelapa Sawit Ke Tiongkok Dan India Setelah Hukum Deforestasi Uni Eropa

TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Asosiasi Minyak Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, menyatakan bahwa pihaknya sedang mengincar Tiongkok sebagai tujuan ekspor minyak kelapa sawit terbesar.

Eddy mengingat bahwa sebelum pandemi COVID-19, ekspor minyak kelapa sawit ke Tiongkok mencapai 8 juta ton per tahun. Angka tersebut turun di bawah 6 juta ton per tahun selama pandemi.

"Tahun lalu (2022) mencapai 6,3 juta ton. Tahun ini, kami menargetkan 7 juta ton. Dan jika memungkinkan, tahun depan akan di atas 8 juta ton," ujar Eddy saat ditemui di kantor Kementerian Perdagangan pada Selasa, 1 Agustus 2023.

Selain itu, Eddy mengatakan bahwa ia akan meningkatkan ekspor ke India dan pasar non-tradisional, seperti Moskow, Rusia, dan Eropa Timur. "Kami juga akan menuju Asia Tengah dan Afrika."

Perluasan ke negara-negara ini akan dimaksimalkan untuk mencegah Indonesia tergantung pada Uni Eropa, mengingat dikeluarkannya Undang-Undang Anti-Deforestasi Uni Eropa yang mengharuskan perusahaan memastikan produk yang diekspor ke UE tidak menyebabkan deforestasi.

Kebijakan tersebut berpotensi menghambat perdagangan minyak kelapa sawit Indonesia dengan UE. Eddy mengklaim bahwa hal tersebut tidak akan terlalu mengganggu karena ekspor ke UE belum terlalu besar.

"Tahun lalu, devisa kita sekitar 39 miliar dolar AS atau Rp600 triliun untuk ekspor 33 juta ton minyak kelapa sawit. Di Eropa saja, hanya 4 juta ton," kata Eddy

Majalah Terbaru

Sponsor Kami