Indonesia Gunakan 1 Juta Kumbang Afrika untuk Memacu Produksi Sawit

Indonesia tengah bertaruh pada serangga kecil dari Afrika untuk membantu meningkatkan produksi minyak sawit, di tengah tantangan pasokan global yang semakin ketat dan berisiko menjaga harga tetap tinggi serta menambah tekanan pada inflasi pangan.

Sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia berencana memperkenalkan sekitar 1 juta kumbang penyerbuk (weevil) di beberapa perkebunan tahun ini guna meningkatkan proses penyerbukan dan pembentukan buah. Tiga spesies yang dikumpulkan dari Tanzania dijadwalkan tiba di fasilitas penelitian di Sumatra Utara bulan depan untuk menjalani serangkaian uji coba sebelum dilepas ke alam.

Harapannya, kumbang penyerbuk asal Afrika ini akan membantu menghidupkan kembali pertumbuhan produksi yang stagnan selama beberapa tahun terakhir. Stagnasi ini disebabkan oleh banyaknya pohon sawit tua yang enggan ditebang dan diganti karena membutuhkan waktu lama untuk kembali berbuah. Terbatasnya pasokan—termasuk dari produsen terbesar kedua, Malaysia—juga menyebabkan harga minyak sawit kehilangan predikat sebagai minyak nabati termurah di dunia, kalah dari minyak kedelai.

Masalah ini makin kompleks karena Indonesia kini ingin memperluas program biofuel-nya, yang berarti lebih banyak minyak sawit akan dialihkan untuk konsumsi dalam negeri, bukan untuk ekspor. Hal ini membuat inisiatif penggunaan serangga ini menjadi sangat penting saat ini.

“Kumbang Angkatan Baru”
Industri sawit di Indonesia dan Malaysia telah berkembang pesat dalam beberapa dekade terakhir, sering kali dengan mengorbankan hutan asli dan kawasan konservasi. Kini, kedua negara menyumbang sekitar 85% dari total pasokan global minyak nabati yang paling banyak digunakan di dunia ini, yang terdapat dalam berbagai produk mulai dari cokelat hingga kosmetik dan biofuel.

Minyak sawit sebenarnya berasal dari Afrika, sehingga kumbang penyerbuk dari Tanzania ini dianggap cocok untuk peran tersebut. Pelepasan serangga sejenis juga pernah dilakukan dengan sukses pada 1980-an di Indonesia dan Malaysia, yang terbukti meningkatkan produksi secara signifikan.

“Kami memang butuh angkatan baru dari serangga ini,” kata Dwi Asmono, Kepala Divisi Penelitian dan Pengembangan di Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki). Organisasi industri ini memimpin inisiatif tersebut dengan dukungan pemerintah serta perusahaan perkebunan negara dan swasta.

“Itu seperti punya pasukan pekerja gratis yang bertugas menyerbuk bunga,” tambahnya. “Namun sebelum dilepaskan secara luas, kita akan mempelajari terlebih dahulu musuh alaminya, spesies yang bisa menjadi kawan, serta perilaku kumbang ini di pagi, siang, dan malam hari.”

Pada Januari lalu, tim peneliti Indonesia telah mengumpulkan sekitar 6.000 kumbang dari Tanzania, yang akan dikirim ke laboratorium milik Pusat Penelitian Kelapa Sawit Indonesia (IOPRI) di Sumatra Utara. Tim gabungan yang terdiri dari ahli entomologi dan Komisi Keamanan Hayati akan mempelajari interaksi serangga ini dengan spesies lokal sebelum dilepaskan ke perkebunan.

Kumbang-kumbang tersebut akan diperbanyak dalam jumlah besar di fasilitas tersebut sebelum dibagikan ke sekitar 20 perusahaan yang terlibat dalam program ini, menurut Asmono dari Gapki. Kementerian Pertanian akan menentukan langkah selanjutnya, termasuk kemungkinan distribusi skala nasional setelah tahap uji coba selesai, tambahnya.

“Kami berharap ini bisa secara signifikan meningkatkan produksi minyak sawit nasional,” kata Dwi Sutoro, direktur di PT Perkebunan Nusantara III (Persero), perusahaan BUMN yang ikut serta dalam program ini.

Serangga tersebut berasal dari genus Elaeidobius, kumbang penyerbuk sawit yang ukurannya sekitar, atau sedikit lebih besar dari, ujung jarum pentul. Mereka memiliki kapasitas tinggi untuk memindahkan serbuk sari dan sangat spesifik terhadap pohon kelapa sawit sebagai inangnya.

Kehadiran kumbang ini memberikan solusi jangka pendek bagi petani untuk mengatasi masalah pasokan, meski juga berisiko mengalihkan perhatian dari kebutuhan mendesak untuk mengganti pohon-pohon tua yang sudah tidak produktif. Pohon baru mulai berbuah pada usia tiga tahun, sementara kumbang dapat membantu menghasilkan tandan buah lebih besar dalam waktu sekitar 12 bulan.

“Inisiatif ini merupakan solusi bagi pohon sawit muda,” ujar M. Hadi Sugeng Wahyudiono, direktur dari Astra Agro Lestari, salah satu produsen sawit yang ikut dalam uji coba serangga tersebut. “Untuk pohon tua, terutama yang berusia lebih dari 25 tahun, tetap perlu diremajakan dengan bibit unggul berproduktivitas tinggi.”

Indonesia pernah melepas sekitar 500 kumbang penyerbuk pada 1980-an, dengan studi menunjukkan peningkatan tingkat pembentukan buah sawit dari 40% menjadi 75%. Gapki memperkirakan angkatan kumbang baru ini dapat meningkatkan tingkat keberhasilan pembentukan buah menjadi minimal 85%.

Namun demikian, kumbang bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan panen. Penggunaan varietas unggul, pemberian pupuk yang cukup, dan penerapan praktik pertanian yang tepat juga sangat penting untuk menjaga atau meningkatkan produksi minyak sawit. Hama dan penyakit tetap menjadi ancaman yang perlu diwaspadai.

Majalah Terbaru

Sponsor Kami