Transformasi PalmCo Dorong Produktivitas dan Keberlanjutan Industri Sawit Nasional
TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU –
Langkah transformasi menyeluruh yang dijalankan PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo menjadi cerminan bagaimana industri sawit nasional terus berbenah untuk menjawab tantangan produktivitas sekaligus tuntutan keberlanjutan lingkungan.
Dari konsolidasi entitas hingga digitalisasi dan komitmen dekarbonisasi, PalmCo menunjukkan arah baru dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit yang lebih terintegrasi dan bertanggung jawab.
Gagasan ini ditegaskan oleh Direktur Utama PalmCo, Jatmiko Santosa, dalam ajang Palmex Indonesia 2025 yang berlangsung di Jakarta International Expo (JIEXPO) pada Kamis, 15 Mei lalu. Dalam forum internasional yang dihadiri pelaku industri dan regulator global tersebut, Jatmiko memaparkan strategi transformasi PalmCo dengan mengusung tema “Enhancing Productivity While Maintaining Sustainability Standards in Palm Oil Plantation”.
Menurut Jatmiko, proses transformasi dimulai dari penggabungan sejumlah anak usaha PT Perkebunan Nusantara ke dalam satu entitas besar, yakni PTPN IV PalmCo, berdasarkan keputusan pemerintah pada Desember 2023. Merger ini membawa dampak luas, baik dari sisi sistem, budaya kerja, hingga pengelolaan operasional yang kini mencakup areal perkebunan sawit terbesar di dunia.
“Transformasi ini tidak sederhana. Kami menghadapi tantangan besar mulai dari perbedaan sistem hingga kultur kerja. Namun semua perubahan ini harus dilakukan secara menyeluruh dari hulu ke hilir,” kata Jatmiko melalui keterangan tertulisnya, Minggu (18/5/2025).
Sebagai bagian dari transformasi, PalmCo mengembangkan PalmCo Business Cockpit, sebuah sistem digital berbasis ERP SAP yang menyatukan data operasional secara real-time dan mendukung pengambilan keputusan yang presisi.
Lebih jauh, PalmCo juga memainkan peran sosial strategis melalui dukungan terhadap program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Hingga tahun ini, PalmCo telah memfasilitasi penerbitan rekomendasi untuk 20.000 hektare lahan plasma milik petani mitra, sebagai bagian dari target nasional 60.000 hektare hingga 2026.
Selain meningkatkan produktivitas petani lewat penyediaan bibit unggul bersertifikat, PalmCo turut mendorong pemberdayaan UMKM lokal, salah satunya melalui koperasi pandai besi yang memproduksi alat panen di wilayah operasional perusahaan.
Dalam agenda dekarbonisasi, PalmCo juga mencatat sejumlah pencapaian penting. Perusahaan telah mengoperasikan 11 unit Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) dengan kapasitas 12,05 MW dan menargetkan pembangunan 29 unit fasilitas Bio-CNG hingga 2030. Tak hanya itu, PalmCo akan mengembangkan satu unit Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang mulai beroperasi pada 2027.
“Melalui unit PKS Lubuk Dalam di Siak, Riau, kami menjadi perusahaan perkebunan pertama yang memperoleh Sertifikat Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca. Ini adalah bentuk nyata komitmen kami terhadap dekarbonisasi dan pengakuan terhadap upaya keberlanjutan yang kami jalankan,” tutur Jatmiko. (Tribunpekanbaru.com/Alexander)



