Penyerbuk Serangga, Pahlawan Tersembunyi di Balik Kejayaan Industri Kelapa Sawit

Indonesia Industri kelapa sawit merupakan salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia dengan nilai produksi Rp440 triliun per tahun. Namun, hanya sedikit yang menyadari bahwa pencapaian besar ini sangat bergantung pada jasa serangga penyerbukan.

"Kelapa sawit tanpa adanya serangga penyerbuk akan mengalami penurunan produksi hingga 70-80 persen," kata Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof Purnama Hidayat, dalam Konferensi Pers Pra Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University via Zoom (22/5).

Ia mengatakan bahwa dari total nilai produksi kelapa sawit sebesar Rp440 triliun, sekitar Rp300 triliun berpotensi hilang jika serangga penyerbuk tidak ada dalam ekosistem perkebunan kelapa sawit. Menurutnya, Indonesia beruntung memiliki kondisi ekologis yang mendukung keberadaan serangga penyerbuk alami.

Misalnya, Malaysia bahkan harus mengimpor serangga bernama Elaeidobius kamerunicus dari Afrika untuk memastikan keberhasilan penyerbukan kelapa sawit. "Karena asal usul tanaman kelapa sawit itu sendiri berasal dari Afrika, serangga juga dibawa dari sana," katanya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa masyarakat sering menganggap remeh keberadaan serangga. Padahal, kata dia, serangga adalah pekerja ekosistem yang vital.

"Kalau tidak ada serangga, maka penyerbukan harus dilakukan secara manual, pekerjaan yang hampir tidak mungkin mengingat jutaan hektar perkebunan kelapa sawit tersebar di seluruh Indonesia," jelasnya.

Selain membahas peran penting serangga penyerbuk, Prof Purnama juga menyoroti potensi serangga sebagai sumber protein di masa depan. Di beberapa negara seperti Thailand, Vietnam, dan Cina, konsumsi serangga telah menjadi bagian dari budaya.

"Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) bahkan telah menyatakan bahwa serangga adalah sumber protein termurah dan paling hemat energi," katanya.

Dalam konteks pertanian berkelanjutan, penggunaan musuh alami sebagai pengendalian hama juga mulai diadopsi oleh industri, seperti yang dilakukan oleh perusahaan gula tua di Lampung. Mereka berhasil mengurangi penggunaan insektisida hingga 80 persen melalui budidaya serangga predator.

"Ini menunjukkan bahwa serangga tidak hanya penting bagi kelapa sawit, tetapi juga untuk menjaga keseimbangan ekosistem pertanian pada umumnya," katanya.

Prof Purnama mengajak semua pihak untuk mengapresiasi dan mengembangkan potensi serangga, baik sebagai penyerbuk, pengendali biologis, maupun sumber pangan masa depan. "Mungkin hari ini kita menganggap makan serangga aneh, tetapi dalam 20-30 tahun, itu bisa menjadi hal yang umum," katanya

Majalah Terbaru

Sponsor Kami