Eropa Sangat Bergantung Pada Minyak Sawit Indonesia
JAKARTA – Utusan Khusus Presiden Prabowo Subianto untuk Energi dan Perubahan Iklim, Hashim Djojohadikusumo, menyoroti ketergantungan negara-negara Eropa Barat terhadap minyak sawit dari Indonesia.
“Negara-negara Eropa sangat bergantung pada minyak sawit. Mereka menggunakannya sebagai bahan baku utama untuk memproduksi berbagai barang konsumsi yang mereka butuhkan setiap hari,” ujar Hashim, yang merupakan saudara dari Presiden Prabowo, saat berbicara dalam sebuah forum bisnis yang digelar di Paris pada Senin (15/07/2025).
"Kita dapat melihat bahwa industri mereka sangat membutuhkan minyak sawit kita. Mereka tidak ingin melihatnya dijatuhkan sanksi, karena mereka bergantung padanya sebagai bahan baku utama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," kata Hashim saat Forum Sarapan Kadin dan Madef.
Dia mengatakan bahwa banyak produk rumah tangga dan konsumen di Eropa seperti sampo, sabun, makanan kemasan dan produk lainnya—mengandung minyak sawit atau produk turunannya.
"Kalau kita lihat komposisinya, banyak produknya mengandung unsur sawit," ujarnya.
Hashim juga menyatakan bahwa pemerintah Indonesia telah menerima sejumlah permintaan yang diajukan oleh perusahaan-perusahaan Eropa untuk mendapatkan pasokan minyak sawit dari Indonesia.
Dia mengatakan Presiden Prabowo Subianto telah menyatakan kesediaannya untuk bekerja sama dengan Eropa. "Beberapa di antaranya telah disetujui oleh Presiden Prabowo. Nantinya Menteri Airlangga dan Menteri Perdagangan akan memberikan rincian kesepakatan tersebut," katanya.
Tulang punggung ekonomi
Meski sering dikritik, ekspor minyak sawit mentah (CPO) masih menjadi tulang punggung utama perekonomian nasional Indonesia.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor CPO selama Januari – Mei 2025 mencapai US$8,90 miliar dengan total volume 8,30 juta ton. Negara tujuan utama termasuk Pakistan, India, dan Cina.
Pada Mei 2025 saja, nilai ekspor CPO melonjak 61,5 persen, jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, menjadi 1,85 miliar dolar AS.
Namun setiap tahun, tren ekspor mengalami fluktuasi. Setelah mencapai puncaknya pada tahun 2022 dengan nilai total US$27,74 miliar, ekspor minyak sawit menurun selama dua tahun terakhir menjadi US$22,69 miliar pada tahun 2023 dan kemudian menjadi US$20,05 miliar pada tahun 2024



