Wasco Greenergy Dorong Ekspansi Regional Meski Saham Ditutup di Bawah Harga IPO
Malaysia, produsen minyak sawit terbesar kedua di dunia, menghasilkan lebih dari 100 juta ton limbah biomassa setiap tahunnya. Wasco Group memandang limbah sawit sebagai sumber energi terbarukan yang masih belum dimanfaatkan secara optimal.
Wasco Greenergy Melantai di Papan Utama Bursa Malaysia
Wasco Greenergy resmi mencatatkan sahamnya di Papan Utama Bursa Malaysia pada 10 Desember. Pasca pencatatan, perusahaan menargetkan percepatan pertumbuhan di Malaysia dan Indonesia, meskipun kejelasan kebijakan di Indonesia masih menjadi perhatian utama. Saham perusahaan ditutup di bawah harga penawaran umum perdana (IPO) pada hari pertama perdagangan.
Pada seremoni pencatatan saham, Chief Executive Officer Lee Yee Chong menyampaikan bahwa perusahaan akan terus meningkatkan skala solusi uap rekayasa (engineered steam solutions), memperkuat kehadiran regional, serta mendukung berbagai industri dalam meningkatkan efisiensi operasional dan menurunkan emisi.
Ekspansi di Indonesia di Tengah Ketidakpastian Kebijakan
Wasco Greenergy berencana memperdalam kehadirannya di Indonesia dengan membuka kantor penjualan di Jakarta serta mendirikan dua pusat layanan baru. Lee menyebutkan bahwa portofolio perusahaan saat ini terbagi hampir seimbang antara Malaysia dan Indonesia, didukung oleh operasional di wilayah-wilayah kaya kelapa sawit. Indonesia menyumbang 49% pendapatan perusahaan pada tahun buku 2024.
Indonesia telah menunjukkan dukungan terhadap energi biomassa, termasuk melalui penggunaan biodiesel dan perluasan perkebunan. Namun demikian, Lee berharap adanya panduan kebijakan yang lebih jelas untuk memperkuat keputusan investasi ke depan. Wasco Greenergy akan bekerja sama dengan pelanggan dan pembuat kebijakan untuk memahami arah kebijakan energi nasional Indonesia. Ia juga menambahkan bahwa dorongan menuju biodiesel B50 serta rencana pembukaan tambahan 600.000 hektare lahan sawit berpotensi meningkatkan permintaan di masa mendatang.
Membangun Ceruk Pasar di Sektor Biomassa Malaysia
Malaysia merupakan pasar terbesar kedua bagi perusahaan. Meskipun pengembangan biomassa di negara ini sebelumnya relatif tertinggal, Lee menilai momentum dapat meningkat seiring dengan peluncuran program energi terbarukan baru. Pemerintah Malaysia dijadwalkan memperkenalkan kapasitas 300 MW melalui skema Feed-in Tariff tahun depan, termasuk 150 MW khusus untuk biomassa.
"Kami memiliki ceruk pasar di bioenergi. Dibandingkan dengan pesaing seperti BM GreenTech, keunggulan kami adalah kemampuan menyediakan rangkaian peralatan yang lengkap, mulai dari sistem pengolahan biomassa hingga boiler dan turbin pembangkit listrik," ujar Lee. "Kami memiliki kedalaman teknis untuk mendukung sektor kelapa sawit maupun industri yang berupaya melakukan dekarbonisasi."
Saat ini, perusahaan menangani 31 proyek sistem energi uap yang sedang berjalan, dengan kapasitas desain berkisar antara 4,5 ton per jam hingga 90 ton per jam, serta 81 pesanan aktif untuk sistem generator turbin uap dengan kapasitas 0,50 MW hingga 3,50 MW.
Per September, buku pesanan Wasco Greenergy mencapai USD 60,5 juta (RM249 juta), di mana sekitar 80% hingga 90% berasal dari kontrak energi terbarukan. Sisanya berasal dari peralatan industri, termasuk mesin pengolahan kelapa sawit.
Wasco Greenergy dibuka pada 11 Desember di harga 95 sen, atau lima sen di bawah harga IPO sebesar RM1. Saham tersebut ditutup di 88 sen, turun 12 sen dari harga penawaran. IPO ini berhasil menghimpun dana bruto sebesar USD 18 juta (RM75 juta).
Perusahaan infrastruktur energi Malaysia, Wasco Bhd, pada hari Senin mengumumkan bahwa para pemegang sahamnya telah menyetujui rencana pencatatan unit bioenerginya, Wasco Greenergy Bhd, yang menandai langkah penting seiring meningkatnya momentum sektor bioenergi nasional.
Wasco Greenergy menargetkan debut di bursa lokal pada pertengahan Desember.
Dari Penyedia EPCC Menjadi Pemain Bioenergi, Wasco Diversifikasi Portofolio
Wasco Greenergy mengkhususkan diri dalam sistem energi uap berbasis biomassa, heat recovery steam generators, sistem generator turbin uap, sistem uap berbahan bakar gas, serta peralatan pengolahan kelapa sawit.
Wasco Group, yang secara tradisional dikenal sebagai kontraktor engineering, procurement, construction, and commissioning (EPCC), kini berevolusi menjadi pemilik aset yang menangani pekerjaan EPCC secara menyeluruh untuk proyek biomassa. Perusahaan berencana memperdalam jejaknya di sektor bioenergi sebagai bagian dari strategi diversifikasi jangka panjang.
"Rencananya adalah melampaui sekadar membangun pabrik untuk pihak lain. Jika kami dapat mengamankan pasokan bahan baku jangka panjang serta perjanjian penyerapan energi—misalnya dengan menjual listrik ke Tenaga Nasional—kami dapat menciptakan sumber pendapatan yang stabil dan berulang," ujar Giancarlo Maccagno, Managing Director dan Chief Executive Officer Wasco, usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan ke-25.
Wasco Greenergy baru-baru ini memperoleh kontrak EPCC untuk pembangunan fasilitas utilitas uap biomassa berkapasitas 70 ton per jam di Johor. Proyek ini akan menggunakan tandan kosong kelapa sawit (empty fruit bunch/EFB) sebagai bahan bakar utama dan diperkirakan dapat menggantikan penggunaan diesel dan gas konvensional, sekaligus menurunkan emisi lebih dari 75.000 ton CO₂e per tahun.
Menggali Potensi Limbah Kelapa Sawit Malaysia
Wasco melihat peluang besar di Malaysia dan Indonesia, di mana tandan kosong kelapa sawit (EFB) dari pabrik kelapa sawit masih menjadi sumber energi terbarukan yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Malaysia memproduksi sekitar 18,7 hingga 19,4 juta ton minyak sawit per tahun, setara dengan sekitar 24% produksi global, dan menempati peringkat kedua dunia setelah Indonesia.
Industri kelapa sawit Malaysia menghasilkan lebih dari 100 juta ton biomassa kering setiap tahun, termasuk batang, pelepah, EFB, dan cangkang inti sawit. Sebagian besar biomassa ini masih diperlakukan sebagai limbah, meskipun memiliki potensi besar yang belum tergarap, ujar Hong Wai Onn, seorang insinyur kimia di Research Institute for Sustainable Excellence and Leadership, dalam Fifth International Oil Palm Biomass Conference 2025.
Salah satu pemanfaatan EFB yang paling langsung adalah sebagai bahan bakar boiler di pabrik kelapa sawit. Setelah diperas dan dicacah, EFB umumnya dibakar bersama serat mesokarp dan cangkang inti sawit untuk menghasilkan uap dan listrik bagi operasional pabrik. Proses ini membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil serta menurunkan emisi gas rumah kaca.
Selain digunakan untuk kebutuhan internal pabrik, EFB juga dapat dipadatkan menjadi pelet atau briket untuk penggunaan komersial. Bahan bakar biomassa tersebut sangat cocok untuk diekspor ke negara-negara dengan permintaan biomassa tinggi seperti Jepang dan Korea Selatan, ujar Ts. Mohd Radzi Muhamad Dul, insinyur energi terbarukan di Johor Plantations Berhad.
Untuk memperkuat aspek keberlanjutan dan keterlacakan dalam rantai pasok, standar Malaysian Sustainable Palm Oil (MSPO) Chain of Custody untuk biomassa kelapa sawit (MS 2751:2022) diluncurkan pada Maret 2022. Standar ini memastikan bahwa biomassa sawit yang digunakan untuk energi terbarukan memenuhi kriteria keberlanjutan yang tersertifikasi. Hingga Agustus 2025, total 5,13 juta hektare perkebunan kelapa sawit di seluruh Malaysia telah tersertifikasi di bawah skema MSPO.



