Malaysia akan memindahkan kantor regional minyak sawit ke Kenya, menjanjikan dukungan teknis untuk meningkatkan produksi lokal

Kenya saat ini merupakan importir minyak sawit terbesar kedua di benua Afrika, hanya setelah Mesir

KENYA – Dalam langkah yang berpotensi mengubah lanskap minyak sawit Kenya, Malaysia mengumumkan rencana untuk memindahkan kantor regional minyak sawitnya untuk Afrika Sub-Sahara dari Afrika Selatan ke Nairobi dan menjanjikan dukungan luas bagi sektor minyak sawit yang masih berkembang di negara Afrika Timur ini.

Pengumuman tersebut disampaikan oleh Menteri Perkebunan dan Komoditas Malaysia, Datuk Seri Johari Abdul Ghani, selama kunjungan resmi ke Nairobi pada 6–8 Mei 2025.

Berbicara kepada media lokal, menteri menekankan komitmen Malaysia untuk memperkuat hubungan perdagangan dengan Kenya dan mendukung ambisi negara tersebut untuk mengembangkan kapasitas produksi minyak sawit lokalnya.

"Kami memindahkan kantor regional kami ke Nairobi. Ini akan mempermudah akses terhadap dukungan bagi para pemangku kepentingan lokal dan memungkinkan mereka menyelesaikan masalah lebih cepat," kata Menteri Ghani.

Ia menegaskan kembali bahwa, jika Kenya ingin mengembangkan produksinya sendiri, pemerintah Malaysia siap mendukungnya.

"Kami dapat menerima petani Kenya di Malaysia untuk pelatihan, menyediakan bibit unggul, dan membantu mereka menciptakan ekosistem pengolahan," tambahnya.

Malaysia merupakan produsen minyak sawit terbesar kedua di dunia setelah Indonesia. Keputusan untuk memindahkan kantor regional ini menegaskan pentingnya Kenya secara strategis dalam perdagangan minyak sawit di Afrika. Kenya saat ini merupakan importir minyak sawit terbesar kedua di benua, hanya setelah Mesir.

Pada tahun pemasaran 2024/2025, Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) memproyeksikan bahwa impor minyak sawit Kenya akan meningkat sebesar 23% mencapai 1 juta metrik ton, mencerminkan meningkatnya konsumsi dan ketergantungan negara tersebut pada komoditas ini.

Nilai impor ini signifikan. Berdasarkan harga rata-rata minyak sawit global saat ini sekitar US$900 per ton, Kenya dapat menghabiskan lebih dari US$900 juta untuk impor minyak sawit tahun ini.

Namun, meskipun sangat bergantung pada minyak sawit impor, produksi domestik Kenya masih minim. Budidaya kelapa sawit masih berada pada tahap percobaan, terutama di beberapa kabupaten barat, yakni Vihiga, Kakamega, Busia, dan Bungoma, serta di sepanjang wilayah pesisir Lamu dan Kwale.

Untuk mempercepat produksi lokal, National Agriculture and Livestock Research Organization (KALRO) Kenya, bekerja sama dengan Agriculture and Food Authority (AFA), menghasilkan 100.000 bibit kelapa sawit pada 2023.

Upaya ini diperkirakan akan meningkat secara signifikan, dengan rencana mendistribusikan tambahan 2,5 juta bibit kepada para petani pada 2026.

"Kemitraan dengan Malaysia bisa memberikan dorongan katalitik yang dibutuhkan untuk mengubah minyak sawit dari tanaman percobaan menjadi usaha komersial yang layak di Kenya," kata ekonom pertanian David Ochieng dari Universitas Egerton.

"Dengan pelatihan yang tepat, varietas bibit yang lebih baik, dan investasi dalam infrastruktur, Kenya bisa mengurangi biaya impor dan menciptakan peluang kerja di pedesaan," tambahnya.

Majalah Terbaru

Sponsor Kami