Produsen Pupuk Malaysia Hentikan Pesanan Baru Seiring Perang Iran Dongkrak Harga

Produsen pupuk di Malaysia menghentikan pesanan baru karena gangguan rantai pasok dan kekurangan bahan baku akibat konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga bahan mentah, yang berpotensi meningkatkan biaya produksi bagi produsen minyak sawit.

Pupuk dapat menyumbang lebih dari setengah biaya produksi bagi perkebunan kelapa sawit. Hampir tertutupnya Selat Hormuz akibat perang Israel–AS melawan Iran telah menghambat sebagian besar pasokan pupuk yang diproduksi di Timur Tengah, serta minyak dan gas yang digunakan dalam pabrik pembuat pupuk tersebut.

“Beberapa bahan baku sudah mengalami kenaikan sebesar 100% hingga 150% hanya dalam waktu dua minggu,” ujar Choon Chun Hong, manajer umum Sabah Softwoods Hybrid Fertiliser, pemasok untuk perkebunan di Malaysia dan Indonesia.

Choon mengatakan perusahaannya yang berbasis di Sabah, negara bagian penghasil minyak sawit di Malaysia, saat ini membatasi pemesanan awal untuk mencegah spekulasi harga.

“Pupuk menyumbang sekitar 60% dari total biaya produksi di Malaysia, dan jika perang berlangsung lebih lama, harga bahan baku akan terus meningkat,” kata Roslin Azmy Hassan, CEO Malaysian Palm Oil Association.

Gulat Manurung, Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), mengatakan kenaikan biaya impor mendorong naiknya harga pupuk kimia di tingkat petani.

“Saat ini tidak ada pilihan lain selain mengombinasikannya dengan pupuk organik,” ujarnya.

(Sumber: Reuters)

Majalah Terbaru

Sponsor Kami